Kesehatan
Masyarakat Malaysia menempati tingkat kepentingan pada perluasan dan pengembangan
kesehatan,
5% anggaran pembangunan sektor sosial pemerintah adalah untuk kesehatan
masyarakat—penaikan lebih dari 47% dari periode sebelumnya. Ini berarti
semua kenaikan lebih dari 2 miliar ringgit Malaysia (lebih dari 6,5
triliun rupiah). Dengan menaiknya harapan hidup dan bertambahnya
penduduk, pemerintah berkehendak untuk memperbaiki banyak sektor,
termasuk perbaikan rumah sakit yang ada, membangun dan melengkapi rumah
sakit baru, pertambahan jumlah klinik umum, dan perbaikan pelatihan dan
perluasan pelayanan jarak jauh (
telehealth). Bertahun-tahun lalu pemerintah telah memperkuat usaha untuk memutakhirkan sistem dan menggaet lebih banyak investor asing.
Sistem kesehatan Malaysia memerlukan para dokter untuk melaksanakan tugas tiga tahun pelayanan di
rumah sakit umum
untuk meyakinkan sumber daya manusia rumah-rumah sakit itu tetap
terjaga. Baru-baru ini dokter-dokter asing juga ditugaskan untuk bekerja
di sini. Tetapi masih juga sejumlah kekurangan tenaga medis, khususnya
yang berpengalaman
spesialis,
hasilnya pelayanan dan perawatan kesehatan tertentu hanya ada di
kota-kota besar. Upaya-upaya terbaru untuk menghadirkan banyak fasilitas
ke kota-kota lain dihambat oleh kurangnya ahli untuk menjalankan
peralatan yang tersedia dari para investor.
Sebagian besar
rumah sakit
swasta berada di perkotaan, dan tidak seperti banyak rumah sakit umum,
diperlengkapi dengan fasilitas diagnosis dan visualisasi terbaru. RUmah
sakit swasta umumnya tidak dilihat sebagai investasi ideal—sedikitnya
perlu waktu sepuluh tahun sebelum investor meraih untung. Namun, situasi
itu kini berubah dan perusahaan kini melihat wilayah ini lagi,
terkhusus memperhatikan kenaikan minat orang asing yang datang ke
Malaysia untuk tujuan perawatan kesehatan dan fokus pemerintah terbatu
untuk membangun industri
pariwisata kesehatan.
[86]
Kewarganegaraan
Sebagian besar orang Malaysia diberikan kewarganegaraan oleh
lex soli.
[87] Kewarganegaraan di negara bagian
Sabah dan
Sarawak di
Malaysia Timur berbeda dengan kewarganegaraan di
Malaysia Barat untuk tujuan imigrasi. Setiap warga negara diberi selembar
kartu identitas biometric smart chip, yang biasa disebut
MyKad, pada umur 12 tahun, dan harus membawa kartu itu kapanpun.
[88]
Ekonomi
Menara Kembar PETRONAS, simbol Malaysia
Semenanjung Malaya dan pastinya
Asia Tenggara menjadi pusat perdagangan di kawasan selama berabad-abad. Berbagai komoditas seperti
keramik dan
rempah aktif diperdagangkan bahkan sebelum
Kesultanan Melaka dan
Singapura mengemuka.
Pada abad ke-17, mereka didirikan di beberapa negara bagian. Kemudian, sejak
Britania Raya mulai mengambil alih sebagai administrator
Malaya Britania, pohon
karet dan
kelapa sawit
diperkenalkan untuk tujuan komersial. Di dalam waktu lama, Malaya
menjadi penghasil timah, karet, dan minyak sawit terbesar di dunia.
[89] Tiga komoditas ini, beserta bahan mentah lainnya, mengatur tempo ekonomi Malaysia lebih baik sampai abad ke-20.
Sebagai ganti kebergantungan pada Suku Melayu sebagai sumber tenaga
kerja, Britania membawa Tionghoa dan orang India untuk bekerja di
pertambangan, perkebunan, dan mengisi kekosongan ahli profesional.
Kendati banyak dari mereka kembali ke negara asal mereka setelah kontrak
dipenuhi, beberapa di antaranya menetap di Malaysia.
Ketika Malaya bergerak ke arah kemerdekaan, pemerintah mulai menerapkan perencanaan ekonomi lima tahunan, dimulai dengan
Rencana Lima Tahun Malaya Pertama pada 1955. Ketika Malaysia didirikan, istilah perencanaan diganti dan dinomori, dimulai dengan
Rencana Malaysia Pertama pada 1965.
Pada 1970-an, Malaysia mulai meniru ekonomi
Empat Macan Asia
(Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, dan Singapura) dan berkomitmen
kepada transformasi dari ekonomi yang bergantung pada pertambangan dan
pertanian ke ekonomi berbasis manufaktur. Dengan investasi Jepang,
industri-industri berat mulai dibuka dan beberapa tahun kemudian, ekspor
Malaysia menjadi mesin pertumbuhan primer negara ini
[rujukan?]. Malaysia secara konsisten menerima lebih dari 7% pertumbuhan
PDB disertai dengan
inflasi yang rendah pada 1980-an dan 1990-an.
[90] Pada dasarnya, pertumbuhan Malaysia bergantung pada ekspor bahan
elektronik seperti
chip komputer dan sebagainya. Akibatnya, Malaysia merasakan tekanan hebat semasa
krisis ekonomi pada tahun 1998 dan kemerosotan dalam sektor
teknologi informasi
pada tahun 2001. KDNK pada tahun 2001 hanya meningkat sebanyak 0,3%
disebabkan pengurangan 11% dalam bilangan ekspor tetapi paket perangsang
fiskal yang besar telah mengurangi dampak tersebut.
Pada periode yang sama, pemerintah berupaya mengurangi angka kemiskinan dengan
Kebijakan Ekonomi Baru Malaysia (NEP) yang kontroversial, setelah
Peristiwa 13 Mei, kerusuhan antar-etnis pada 1969.
[51]
Tujuan utamanya adalah menghilangkan keterkaitan ras dengan fungsi
ekonomi, dan rencana lima tahun pertama mulai menerapkan NEP sebagai
Rencana Malaysia Kedua. Kejayaan atau kegagalan NEP menjadi bahan perdebatan, kendati secara resmi berakhir pada 1990 dan diganti dengan
Kebijakan Pembangunan Nasional
(NDP). Baru-baru ini banyak debat muncul sekali lagi tentang hasil dan
relevansi NEP. Sebagian pihak berdalih bahwa NEP jelas-jelas berjaya
menciptakan pengusaha dan tenaga profesional Melayu kelas menengah-atas.
Kendati beberapa perbaikan di dalam kekuatan ekonomi Melayu secara
umum, pemerintah Malaysia memelihara kebijakan diskriminasi yang
menguntungkan Suku Melayu di atas suku lain - termasuk pengutamaan
penerimaan kerja, pendidikan, beasiswa, perdagangan, akses mendapatkan
rumah murah dan tabungan yang dibantu.
[91] Perlakuan khusus ini memicu kecemburuan dan kebencian di antara non-Melayu dan Melayu.
Penguasaan Tionghoa terhadap sektor ekonomi negara yang dimiliki
pihak lokal telah banyak diserahkan demi menguntungkan Bumiputra/Melayu
di banyak industri strategis/penting seperti distribusi turunan minyak
bumi, transportasi, pertanian, dan lain-lain. Sebagian besar profesional
per kapita masih didominasi orang India-Malaysia.
Ledakan ekonomi yang cepat memicu macam-macam masalah pemasokan.
Sedikitnya tenaga kerja segera dipenuhi dengan mengalirnya jutaan
pekerja imigran, banyak di antaranya ilegal.
PLC
yang kaya akan modal tunai dan konsorsium bank-bank segera
menguntungkan pertambahan dan mencepatnya pemulaian pembangunan
projek-projek infrastruktur besar. Ini berakhir ketika
krisis finansial Asia 1997 melanda pada musim gugur 1997, menghantarkan kejutan besar bagi ekonomi Malaysia.
Seperti negara lain yang dipengaruhi krisis, terjadi penjualan singkat spekulatif mata uang Malaysia,
ringgit.
Penanaman modal asing
jatuh pada tingkatan yang berbahaya, karena modal menguap ke luar
negara, nilai ringgit jatuh dari MYR 2,50 per USD ke, MYR 4,80 per USD.
Indeks komposit
Bursa Malaysia terjungkal dari hampir 1.300 poin ke kisaran 400 poin dalam hitungan pekan. Setelah penangkapan kontroversial menteri keuangan
Anwar Ibrahim, sebuah Dewan Aksi Ekonomi Nasional dibentuk untuk mengantisipasi krisis moneter.
Bank Negara Malaysia menentukan
pengendalian modal dan
mematok nilai tukar ringgit Malaysia pada 3,80 terhadap dolar Amerika Serikat. Bagaimanapun, Malaysia menolak paket bantuan ekonomi dari
Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, tindakan yang mengejutkan analis asing.
Pada Maret, 2005,
United Nations Conference on Trade and Development
(UNCTAD) menerbitkan sebuah makalah tentang sumber-sumber dan langkah
pemulihan Malaysia, ditulis oleh Jomo K.S. dari departemen ekonomi
terapan,
Universitas Malaya,
Kuala Lumpur.
Makalah itu menyimpulkan bahwa kontrol yang ditentukan pemerintah
Malaysia tidaklah memperparah tidak pula membantu pemulihan. Faktor
terbesar adalah menaiknya jumlah ekspor komponen elektronik, yang
disebabkan oleh menaiknya permintaan komponen di Amerika Serikat, yang
disebabkan oleh kekhawatiran dampak kedatangan tahun 2000 (
Y2K) pada komputer dan perangkat digital lain yang lebih tua.
Tetapi, pasca-memudarnya Y2K pada 2001 tidak memengaruhi Malaysia
seperti banyak negara lain. Ini menjadi bukti yang lebih jelas bahwa ada
sebab-sebab dan dampak-dampak lain yang mungkin lebih bersesuaian untuk
pemulihan. Satu kemungkinan adalah bahwa para spekulan mata uang
mengalami kebangkrutan keuangan setelah jatuh di dalam aksi serang
mereka terhadap
dolar Hong Kong pada Agustus 1998 dan setelah rubel Rusia tumbang. (Lihat
George Soros)
Tanpa memperhatikan sebab dan akibat klaim, peremajaan ekonomi juga
bergulir dengan defisit anggaran dan belanja pemerintah besar-besaran
pada tahun-tahun setelah krisis. Kemudian, Malaysia menikmati pemulihan
ekonomi lebih cepat dibandingkan dengan jiran-jirannya. Bagaimanapun, di
banyak cara negara ini belum mengalami kepulihan pada tingkatan
pra-krisis.
Sementara langkah pembangunan kini tidak secepat dulu, tetapi terasa
lebih stabil. Kendati kontrol dan penjagaan ekonomi bukan menjadi alasan
utama pemulihan, tidak ada keraguan bahwa sektor perbankan menjadi
lebih kenyal terhadap serangan luar negara. Akun saat ini berada di
surplus struktural, memberikan bantalan bagi pengambangan modal.
Harga-harga aset kini, fraksi dari ketinggian pra-krisis mereka.
Malaysia mempunyai sejumlah elemen makroekonomi yang stabil (di mana tingkat
inflasi dan tingkat
pengangguran
tetap di bawah 3%), simpanan pertukaran uang asing yang sehat, dan
utang luar negeri yang rendah. Ini memungkinkan Malaysia untuk tidak
mengalami krisis yang sama seperti
Krisis finansial Asia pada tahun 1997. Walau bagaimanapun, prospek jangka panjang kelihatan kurang baik disebabkan kurangnya perubahan dalam sektor
badan hukum terutama sektor yang berurusan dengan utang korporat yang tinggi dan kompetitif.
Nilai tukar yang dipatok dibuka kembali pada Juli 2005 untuk
nilai tukar mengambang yang terawasi setelah satu jam pemberlakuan yang sama oleh Cina.
[92]
Pada pekan yang sama, ringgit menguat satu persen dibandingkan mata
uang utama lainnya dan diharapkan akan mengalami apresiasi lebih jauh.
Tetapi pada Desember 2005, harapan apresiasi lebih jauh menjadi bisu
karena
aliran modal melampaui USD 10 miliar.
[93]
Pada September 2005, Howard J. Davies, direktur
London School of Economics, di dalam sebuah pertemuan di
Kuala Lumpur,
memperingatkan para pejabat Malaysia bahwa jika mereka ingin pasar
modal fleksibel kembali, mereka harus mencabut larangan penjualan
singkat. Pada Maret 2006, Malaysia mencabut larangan penjualan singkat.
[94] Kini, Malaysia dipandang sebagai
negara industri baru.
[17][18][95]
Infrastruktur
- Lihat juga: Bangunan dan struktur di Kuala Lumpur dan Bangunan dan Struktur di Putrajaya
Malaysia memiliki jalan-jalan besar yang menghubungkan semua kota
besar di pesisir barat Semenanjung Malaysia. Pada 2006, panjang
keseluruhan
Sistem Jalur Cepat Malaysia adalah 1.471,6 kilometer. Jejaring itu menghubungkan semua kota besar dan sekitarnya:
Klang Valley,
Johor Bahru, dan
Penang
satu sama lain. Jalur motor utama (E1 dan E2, E1 adalah bagian Utara
Kuala Lumpur, sedangkan E2 adalah bagian selatan), terentang dari ujung
utara dan selatan Semenanjung Malaysia, masing-masing di Bukit Kayu
Hitam dan Johor Bahru. Jalur itu bagian dari
Jaringan Jalur Cepat Asia, yang juga menghubungkan Thailand dan Singapura.
Jalan di Malaysia Timur dan pesisir timur Semenanjung Malaysia
relatif kurang terbangun. Semua itu berupa jalan yang sangat
berkelok-kelok melewati pegunungan dan belum dilapisi aspal, jalan
berkerikil. Akibatnya, sungai masih menjadi jalur transportasi penting,
di samping
pesawat udara sebagai modus utama atau alternatif transportasi bagi penduduk pedalaman.
Jasa kereta api di Malaysia Barat dioperasikan oleh
Keretapi Tanah Melayu dan memiliki rel cukup banyak yang menghubungkan semua kota besar dan kota kecil di semenanjung, yang juga melebar hingga
Singapura. Juga ada rel pendek di Sabah yang dioperasikan oleh
Sabah State Railway yang utamanya mengangkut komoditas.
Juga ada
pelabuhan di negara ini. Pelabuhan besar adalah
Port Klang dan
Tanjung Pelepas di Johor. Pelabuhan penting lainnya dapat ditemukan di
Tanjung Kidurong,
Kota Kinabalu,
Kuching,
Kuantan,
Pasir Gudang,
Penang,
Miri,
Sandakan, and
Tawau.
Bandar Udara ditemukan di pelosok negara.
Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) adalah bandar udara terbesar di negara ini. Bandar udara penting lainnya termasuk
Bandar Udara Internasional Kota Kinabalu,
Bandar Udara Internasional Penang,
Bandar Udara Internasional Kuching,
Bandar Udara Internasional Langkawi, dan
Bandar Udara Internasional Senai.
Juga ada bandar udara di kota-kota kecil, juga pelabuhan udara perintis
domestik di kawasan perkotaan Sabah dan Sarawak. Terdapat jasa
penerbangan harian Timur dan Barat Malaysia, satu-satunya pilihan yang
tepat bagi konsumen perjalanan dari dua belahan negara ini. Malaysia
adalah rumah bagi maskapai udara murah di kawasan ini,
AirAsia.
AirAsia berbasis di Kuala Lumpur dan memelihara penerbangan ke Asia
Tenggara dan Cina. Di Kuala Lumpur, AirAsia mengoperasikan
Low Cost Carrier Terminal (LCCT) di KLIA.
Jasa telekomunikasi antarkota disediakan di Malaysia Barat terutama
oleh riley radio gelombang pendek. Telekomunikasi internasional
disediakan melalui kabel bawah laut dan satelit. Salah satu perusahaan
telekomunikasi terpenting dan terbesar di Malaysia adalah
Telekom Malaysia (TM), yang menyediakan produk-produk dan pelayanan dari sambungan tetap, sambungan bergerak, juga jasa akses Internet
dial-up dan
broadband. TM memiliki semi-monopoli jasa sambungan telepon tetap di negara ini.
Pada Desember 2004, Menteri Energi, Air, dan Komunikasi
Lim Keng Yaik melaporkan bahwa hanya 0,85% atau 218.004 orang di Malaysia menggunakan jasa
broadband.
Tetapi, angka ini didasarkan pada banyaknya pelanggan, sedangkan satuan
persentase rumah tangga mencerminkan situasi lebih akurat. Ini
menggambarkan kenaikan 0,45% di tiga triwulan. Dia juga melaporkan bahwa
pemerintah menargetkan penggunaan 5% pada 2006 dan berlipat dua menjadi
10% pada 2008. Lim Keng Yaik mendorong perusahaan-perusahaan
telekomunikasi lokal dan penyedia jasa untuk membuka mil terakhir dan
harga lebih murah agar menguntungkan pengguna.
Budaya
Budaya Malaysia merujuk kepada kebudayaan semua masyarakat majemuk yang terdapat di Malaysia dan
berbagai suku di sana, seperti:
- Kebudayaan Melayu
- Kebudayaan Tionghoa
- Kebudayaan India
- Kebudayaan Kadazan-Dusun
- Kebudayaan Dayak, Iban, Kayan, Kenyah, Murut, Lun Bawang, Kelabit, dan Bidayuh.